SMPN 5 WATULIMO- “TABEBUYA” : Tanggap Bencana¬† dengan Belajar, Usaha, dan Yakin

Kawasan pesisir selatan Trenggalek, Jawa Timur, masuk zona rawan tsunami. Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terdapat 13 desa di tiga kecamatan yang masuk kawasan rawan tsunami, yakni Kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul. Untuk wilayah Kecamatan Watulimo ada empat desa terdampak, yaitu Desa Karanggandu, Tasikmadu, Prigi, dan Margomulyo. Sedangkan, fasilitas umum terdampak, meliputi 18 sekolah, 19 masjid, 1 kantor polisi, 1 kantor Koramil, 8 kantor pemerintahan, 7 pelayanan kesehatan, 4 perhotelan, dan 8 pasar/ swalayan.

SMP Negeri 1 Watulimo merupakan salah satu sekolah terdampak yang berlokasi di RT 21 RW 01 Desa Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek sekitar 2 km dari bibir Pantai Prigi. Sekolah tentu saja akan melakukan sejumlah antisipasi. Mulai dari penyiapan infrastruktur peringatan dini, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga kesiapsiagaan warga SMPN 1 Watulimo.

Dalam antisipasi bencana Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan bantuan alat peringatan dini atau early warning system (EWS) yang dipasang di sekitar Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, yaitu di tower Telkom Tasikmadu, masjid depan Hotel Prigi, Masjid Karanggongso, dan di Balai Desa Karanggandu. Alat berupa sirine ini terintegrasi dengan Pusdalops (pusat pengendali operasi) BPBD Trenggalek. Sistem kerja EWS tsunami ini berfungsi jika sewaktu-waktu terjadi gempa yang berpotensi tsunami di wilayah Trenggalek, EWS segera menginformasikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek. Selanjutnya BPBD akan menekan tombol sirine sebagai instruksi kepada warga agar segera mengungsi ke tempat evakuasi yang lebih aman.

Mengingat letak SMP Negeri 1 Watulimo yang 2 km dari bibir pantai dan terletak di jalur ramai terutama pada jam-jam sekolah atau jam kerja, kemungkinan sirine kurang terdengar, maka perlu dibuatkan suatu rangkaian alat/ aplikasi sirine ke lonceng tanda pelajaran di sekolah yang terhubung dengan EWS. Sehingga, jika terjadi suatu bencana di laut, sirine disekitar pantai berbunyi, secara otomatis sirine lonceng jam pelajaran pun akan berbunyi.

Selanjutnya, selain alat peringatan dini tanggap bencana tersebut, sekolah juga berusaha mengupayakan jalur evakuasi dan titik kumpul dengan mengikhtiarkan kesiapsiagaan bencana baik edukasi/ sosialisasi, simulasi, penghijauan (pohon tabebuya), dan dapur umum. Edukasi/ sosialisasi mulai dari memberikan pengetahuan dan pemahaman memahami potensi bencana di wilayah Watulimo, kontruksi bangunan sekolah, penyelamatan dan langkah-langkah penyelamatan diri dan bersama warga sekolah, pengadaan dapur umum di tempat pengungsian, dan penghijauan di sekitar wilayah sekolah dengan pepohonan pelindung, termasuk tabebuya sebagai upaya preventif untuk benteng laju aliran air. Juga, diperlukan kolaborasi dan kerja sama dengan  pihak-pihak terkait: KSB, Tagana, BPBD, Basarnasda, TNI AL/ Polairut, Damkar, Dinsos, dan lain-lain. Ketika usaha preventif dan kesiapsiagaan sudah dilaksanakan dengan aksi dan partisipasi nyata, In Syaa Allah, yakin bisa mengatasi masalah jika misalnya suatu ketika terjadi bencana atau TABEBUYA (Tanggap Bencana dengan Belajar, Usaha, dan Yakin)

Adapun tujuan Tabebuya Mitigasi Bencana Tsunami bagi Warga SMP Negeri 1 Watulimo ini sebagai berikut.

  1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman (edukasi) kepada seluruh warga stakeholder SMP Negeri 1 Watulimo tentang informasi gempa bumi dan tsunami (penguatan literasi);
  2.  Untuk memberikan sosialisasi/ diseminasi kepada warga sekolah dan untuk diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sekitar;
  3. Untuk memberikan simulasi dan aksi nyata dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami; dan
  4. Untuk menjalin kerja sama dengan pihak-pihat terkait dalam kesamaptaan penanggulangan bencana.